Rabu, 30 November 2011

Sejarah OI

Komunitas Penggemar Iwan Fals: Ada Oi, Oli, Ada Juga Falsmania


JIKA dua orang bertemu di lokasi konser musik dan belum saling kenal, tapi terikat secara emosional lantaran menyukai musik yang sama, biasanya menyerukan, “Oi... oi....” dengan tangan mengacung ke atas.
Adegan  ini kerap terjadi di lokasi konser Iwan Fals. Penonton dengan latar belakang yang berbeda, untuk mengakrabkan diri menyerukan “Oi”.
Yang sering melihat kejadian itu, Virgiawan Listanto atau Iwan Fals (49) terinspirasi  menggunakan seruan “Oi” sebagai nama organisasi penggemarnya.
Iwan pun jauh sebelumnya menyapa para fansnya dengan salam “Oi”. Oleh penggemarnya, Oi sering dipelesetkan menjadi Orangnya Iwan, Om Iwan, atau Orang Indonesia.
Oi terealisasi sebagai organisasi sosial tercatat melalui Jambore pertama pada 16 Agustus 1999 yang diadakan di kediaman Iwan Fals di Leuwinanggung No 19, Depok.
Ditetapkanlah AD/ART, logo Oi, lagu mars Oi, sekaligus ketua dan pengurusnya. Sebelum membentuk Oi, lebih dulu Iwan membentuk YOI (Yayasan Orang Indonesia).
oi-1Ketua pertama Oi perempuan bernama Krisnowati. Oi membawa misi berbuat untuk Indonesia dengan mengedepankan 4 pilar utama: pendidikan, olahraga, kesenian, dan perdagangan.
Kegiatan di setiap cabang Oi di daerah sama. Yang membedakan, ada yang lebih menekankan sisi pendidikan dan olahraga atau perdagangan yang lebih utama.  
Tahun 2003, digelar Jambore Oi II di Bumi Perkemahan dan Wisata Cibubur, untuk memilih pengurus dan ketua Oi yang baru. Terpilih Digo sebagai ketua Oi. Digo memimpin Oi selama dua periode.
Selama itu banyak kegiatan yang berisi, seperti diskusi Reboan yang bertajuk “OPINI-RI” (Obrolan dan Pikiran Tentang Negeri Ini di Rumah Iwan Fals-red) yang dihadiri pejabat  negara sekelas menteri, LSM, bahkan pelaku industri TV.
Tahun 2010, masa jabatan Digo berakhir dan berdasarkan pemilihan berikutnya, terbentuk  pengurus dan ketua baru yaitu  Sony Teguh Trilaksono. Sony selain sebagai ketua Oi merupakan salah satu petinggi di Indosat.  
Oi berdiri di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Melihat infrastruktur yang sudah terbangun dengan rapi dengan jumlah massa yang menggiurkan, tak sedikit tokoh partai politik sowan ke Iwan Fals untuk membujuk Oi ikut berpolitik.
Tapi sejak awal Iwan menegaskan, Oi bukan organisasi politik.
“Kalau mau berpolitik jangan menggunakan Oi. Anak-anak Oi boleh berpolitik secara pribadi tapi tidak menggunakan organisasi Oi. Saya  sudah komit tidak akan terjun ke dunia politik,” ungkap Iwan, kelahiran Jakarta 3 September 1961.
Kiprah Oi di masyarakat barangkali lebih di bidang lingkungan. Sehubungan dengan lagu-lagu Iwan di album Keseimbangan, di mana banyak bercerita tentang hutan, menanam pohon, dan lingkungan hidup, fans pun jadi ikut peduli terhadap lingkungan.
Apalagi setiap usai konser Iawan, penonton diberi oleh-oleh bibit pohon. Tapi bukan soal lingkungan saja. Saat bencana mengeroyok anak bangsa lewat Wasior, Merapi, dan Mentawai, Oi pun, tanpa harus dikomando, bergerak cepat ke lokasi bencana untuk membantu para korban. Saat tsunami menerjang Aceh tahun 2004 silam, Oi bisa dibilang pasukan yang lebih awal bertindak.
Bicara komunitas Iwan Fals, sesungguhnya bukan hanya Oi. Ternyata  banyak penggemar Iwan Fals yang tak peduli mau terikat secara organisasi. Mereka lebih suka disebut Falsmania. Yang rajin mengikuti kegiatan Oi tapi belum tercatat sebagai anggota Oi, disebut Oli alias Oi Liar.
”Kalau bicara fans, jumlahnya sampai jutaan. Yang tercatat memang tak sebanyak itu tapi sudah tersebar di hampir 33 provinsi di Indonesia. Yang lebih banyak itu, Falsmania dan Oli. Ya, saya tidak mau  memaksa harus tergabung secara  resmi. Saya menghargai keputusan mereka yang memang maunya mendengarkan lagu, menonton konsernya saja. Kalau soal militansi, mereka yang tidak punya kartu anggota malah kadang lebih militan,” ungkap Iwan.
Dulu barangkali fans Iwan belum mapan. Seiring perjalanan waktu, para penggemar Iwan yang kini telah menduduki posisi penting di instansi masing-masing atau menjadi orang sukses bersedia menjadi sponsor untuk konser-konser Iwan. Tak jarang Oi sendiri yang menggelar konser untuk Iwan. Seperti yang digelar di Aceh, Sukabumi, dan lain-lain.
Hubungan antara Iwan dan fans sangat dekat. Ada salah satu penggemar yang membeli rumah Iwan yang berlokasi di Jalan Haji Ali, Condet. Rumah itu dijaga kelestariannya karena memiliki sejarah yang kuat. Ada juga yang sampai mengoleksi uban Iwan Fals. Kalau lagu-lagu Iwan Fals yang tak beredar di pasaran, nyaris semua anak Oi, Oli, atau Falsmania punya koleksinya.
Di era internet ini, untuk bisa ngobrol atau chatting dengan Iwan hal yang sangat mungkin. Apalagi Iwan telah membangun satu laman khusus untuk para penggemarnya. Jika nasib lagi baik, bisa memergoki  Iwan online. Iwan juga bisa  ditemui di Facebook atau Twitter. Tapi kalau mau lebih puas, datang saja ke rumahnya. Sebab sehari-hari Iwan melakukan aktivitas di sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar